DUNIA KOMPUTER

Rabu, 28 Juli 2010

Asal Usul Marga Bugis Di Nias

Awal Mula

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.

Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)


Asal Usul Marga Bugis Di Nias

Membaca buku “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” karangan Pater Johannes Maria Hammerle, kita semakin menemukan hubungan dan pertalian budaya yang begitu kuat walau pada beberapa aspek masih perlu dipertajam dan diriset lebih dalam. Bersama Aceh, Melayu Sumatera, dan Batak, bangsa Bugis telah menjadi tulang punggung sosial dan pewarna budaya Nias jauh sebelum awal abad ke-20. Dari catatan riset etnologis-antropologis tentang Nias, terungkap bahwa komunitas ini telah berumur lebih 100 tahun. Tetapi sejak seratus tahun pula tidak banyak lagi yang terjadi. Dan dari sinilah Pater Johannes Hämmerle ikut meramaikan dunia penelitian etnologis-antropologis tentang Nias dengan publikasi yang patut mendapat pujian.

Menurut dia, adalah pulau Hinako yang sering dianggap sebagai daerah Bugis lama. Pulau Hinako berada di seberang kota Sirombu di Nias Barat atau Nias selatan bagian barat. Kepulauan Hinako terdiri dari 8 pulau dimana sebagian besar warganya adalah keturunan Bugis. Merekadatang ke Nias sekitar abad ke-17 atau sekitar 13 generasi lalu. Ceritanya, mereka yang datang itu adalah tiga bersaudara. Anak pertama kelak tinggal di pulau Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang, pulau Simeulue (Aceh) dan anak ketiga tinggal di pulau Batu (Tello Nias Selatan). Orang Bugis yang tinggal di Hinako kerap diserang oleh orang Aceh bahkan nyaris dihabisi. Orang Bugis ini mempunyai marga Maru Ndruri, Maru Ao, Maru Hawa, Maru Abaya, Maru Lafau, dan Bulu ‘Aro dan lain lain.

Selain itu terdapat juga versi tentang Bugis di Nias Selatan. Mereka disebut menjelma menjadi suku Bekhua atau suku raksasa. Terdapat 90 orang raksana bekhua (Bugis) yang disebut Laowo Maru. Bekhua ini diserang dan terbunuh. Tersisa satu orang yang melarikan diri dan sampai di Hinako.

Sementara missionaris Steinhart yang berkarya di kepualau Batu dari tahun 1924 sampai 1939 memberitahukan bahwa di kepulauan Batu, orang-orang Bekhua dihormati sebagai pemilik tanah atau penghuni asli. Leluhur mereka disebut Maru. Sewaktu Steinhart masih berada di kepulauan Batu, ditemukan penduduk yang sanggup mengucapkan beberapa rumusan bahasa mereka, li bekhua. Tetapi tidak tahu lagi mengartikannya.

Bahasa daerah orang Bugis di Hinako menurut beberapa orang masih digunakan pada abad ke-19. Tetapi pada abad ke-20 orang Bugis di Hinako mulai menggunakan bahasa Nias. Analisis ini diperkuat oleh buku tulisan Tuanko Rao, bahwa sudah ditemukan masyarakat campuran di wilayah pelabuhan Singkuang, pantai barat Sumatera pada tahun 1416, termasuk adanya komunitas Bugis dari Sulawesi. Leluhur yang datang ke pulau Hinako selalu menggunakan nama Maru, padahal hanya satu marga yang datang tersebut dari Maros atau Maru, demikian Pater Johannes menulis dalam bukunya yang kontroversial tersebut. Pater juga menyebut bahwa tradisi lisan pada abad ke-20 tidak terjamin lagi dan dengan cepat menghilang. Hal ini terbukti di Hinako dimana tradisi lisan itu hampir punah.

Mendukung informasi tersebut, menurut catatan arsip KJTLV di kota Leiden, Belanda, keturunan Bugis di Hinako dikenal sebagai raja Kelapa. Informasi ini diperoleh pada tahun 1980 yang menyebut marga Maru yang mendiami Hinako terdapat 5 marga. Diperkirakan bahwa awal kedatangan to-Maru adalah pada tahun 1675. Ini setelah memperhatikan catatan-catatan dari Leiden tersebut.

Selain itu ada beberapa versi yang cukup mengejutkan, misalnya penggalian di gua Togi Ndrawa (menurut penelitian yang baru dilakukan di Heilberg, Jerman), atau gua Pelita, yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah tinggal di sana sejak 7000 tahun yang lalu. Salah satunya adalah di daerah Hinako itu, dan di pulau-pulau Wesi Selatan telah ada selama 17-18 generasi yang lalu. Mereka disebut suku Maru yaitu suku asli orang Bugis di Nias. Para missionaris menyatakan bahwa bahasa mereka telah hilang kira-kira 100 tahun yang lalu. Kemudian orang Aceh datang ke Nias kira-kira 13-14 generasi yang lalu.

Cerita Versi Modern
Lain catatan peneliti lain pula cerita dari mulut ke mulut. Adalah nama kecamatan Lahewa di Nias Utara yang awalnya dibangun oleh pendatang Bugis yang konon bernama A.Gasiguro Bugis yang berdiam di Moawo pada sekitar awal 1900 yang kemudian mempunyai anak bernama Muhammad Ali Bugis (A. Gaviti Bugis) yang merintis pelabuhan Lahewa menjadi pelabuhan besar Lahewa. Beberapa daerah atau kampung, yang sepertinya dipengaruhi kata Bugis atau Makassar adalah Toyolawa dan Turelaya. Belanda melakukan ekspedisi pertama kalinya di Nias tahun 1855, kemudian pada tahun 1863. Nias telah dikuasai Belanda tahun 1914 seiring dengan gelombang pendatang yang juga semakin besar. Sejak tahun ini di pulau itu, menurut cerita, datanglah pedagang dari tanah Sulawesi.

Sayang sekali ketika menjejak Nias Selatan, tepatnya pulau-pulau Batu, saya tidak sempat mengunjungi pulau Hinako. Pulau Hinako inilah yang disebut oleh Pater Johannes sebagai pulau pelarian Bugis yang selamat dari pertempuran. Namun di dekat pulau ini saya mengunjungi beberapa pulau yang oleh warga setempat disebutkan bahwa untuk pertama kalinya dihuni oleh orang Bugis. Namanya pulau Tello. Selain itu terdapat pula nama pulau seperti pulau Baluta, Asu, Wesi dan pulau Bogi. Nama-nama yang terkesan Bugis.

Dalam kajian lain pernah pula terungkap bahwa masyarakat Nias pernah menggeluti olahraga ma’raga (takraw). Ma’raga berasal dari kata Bugis, sedangkan orang Makassar, sering menyebut permainan ini dengan a’raga (olahraga). Ma’raga termasuk jenis permainan yang memadukan unsur olahraga dan seni. Permainan yang berasal dari Malaka ini, konon hanya dilakukan oleh para bangsawan Bugis saat diadakannya upacara-upacara resmi kerajaan seperti pelantikan raja dan perkawinan anggota kerajaan. Sepak raga di Nias disebut Fa Rago/Famai Rago (Bermain Rago/Berolahraga). Permainan rakyat ini di Nias sudah jarang dilaksanakan atau tidak pernah terlihat lagi.

Terdapat juga hikayat tentang datangnya penganjur Islam, sekitar tahun 1215 H atau 1794 M di bawah pimpinan Haji Daeng Hafiz yang tinggal dan menetap di Gunungsitoli. Dalam pandangan penulis, Bugis telah menyebar hampir di seluruh wilayah kepulauan nusantara. Mereka meninggalkan jejak di Simeuleu, Singkil, Nias, dan beberapa daerah kunci di Sumatera. Ini berarti bahwa mobilitas yang tinggi dan pantang mundur itu dari dulu sudah terpatri. Tentu saja hal tersebut menyimpan sebuah misi.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut di atas, paling tidak terdapat pengakuan dan sisa-sisa tulisan dan diakui di tengah masyarakat setempat, seperti masih adanya nama fam Bugis tersebut. Terdapat fam Bugis yang tidak bisa berbahasa Bugis lagi.

Kita akan semakin yakin bahwa Bugis pada masa lalu memegang peranan penting dan menjadi patron bagi perkembangan wilayah di tanah air. Gambaran di atas adalah khasanah atau kekayaan sejarah nasional. Karenanya, dibutuhkan upaya yang lebih mendalam untuk mencari informasi berserak yang dapat menjadi gagasan komunal tentang revitalisasi daya jelajah dan daya juang masyarakat di nusantara.

Catatan Cerita Saya :

Dari cerita asal usul bugis yang dicerita orang tua saya mengatakan " dulunya kakek moyang mereka adalah seorang pelaut yang berasal dari sulawesi selatan ( dimana orang bugis hidupnya melaut) sehingga mereka menemukan daratan pulau nias letak di nias utara di kecamatan lahewa yang sekarang kabupaten nias utara.. dimana disana mereka melabuh dan menetap di lahewa sambil menyiarkan agama islam.., kebetahan mereka .. terjadi pernikahan antara suku nias dan bugis... sekarang banyak di temukan keturunan suku bugis di kecamatan lahewa di desa mo'awe.. karena ibu saya termasuk keturunan suku bugis.. dan sekarang menggunakan fam bugis di depan namanya..

Sekarang sudah 7 keturunan dari keluarga ibu saya yang bermarga bugis..

dimana bugis terbagi atas 3 :

1. bugis tambone/tampone = orang yang tinggal di pesisir pantai

2. bugis wage = keturunan bangsawan

3. bugis ( saya kurang tahu ) , tpi dari hasil cerita ibu/nenek saya bahwa bugis ini yang menguasai kepemerintahan..

Yang menguatkan bahwa mereka adalah keturunan bugis yakni :

1. Tambo adalah Silsilah keturunan nenek moyang marga bugis

2. Tongkat Emas Datuk Daeng Nakonce yg merupakan tongkat berasal dari Bugis

3. Makam para Datuk Bugis terletak di kecamatan Desa Moa'we- Lahewa Kab. Nias Utara

Terjadi Marga Bugis

Dimana pada saat itu bugis adalah sepenggal suku.., kemudian menjadi marga karena buyut ibu saya meninggal., mulai terpikirkan untuk membuat fam di depan nama yakni bugis agar mengenang asal usul mereka.., bugis mulai dipakai di depan nama disaat 6 keturunan keluarga ibu saya, dan kemudian berkembang marga bugis..

bila ada cerita yang mengatakan bugis berlabuh sejak pertama kalinya di nias barata letaknya di sirombu.. yang memiliki pecahan marga maru hawa, maru ao , marunduri dll "mungkin juga".. tapi yang saya ceritakan asal usul marga bugis di nias utara..

*maaf bila ada kesalahan mohon di koreksi/ diperbaiki

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis dan mengutip beberapa catatan peneliti Belanda Pater Johannes Maria Hammerle,



1 komentar: