DUNIA KOMPUTER

Rabu, 28 Juli 2010

Memories in Sipiso - Piso

lgi nunjuk kakek & nenek ge kasmaran

indahnya kebersamaan







cWeq caem


memohon sang bidadari mandi bareng aQ



Asal Usul Marga Bugis Di Nias

Awal Mula

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.

Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)


Asal Usul Marga Bugis Di Nias

Membaca buku “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” karangan Pater Johannes Maria Hammerle, kita semakin menemukan hubungan dan pertalian budaya yang begitu kuat walau pada beberapa aspek masih perlu dipertajam dan diriset lebih dalam. Bersama Aceh, Melayu Sumatera, dan Batak, bangsa Bugis telah menjadi tulang punggung sosial dan pewarna budaya Nias jauh sebelum awal abad ke-20. Dari catatan riset etnologis-antropologis tentang Nias, terungkap bahwa komunitas ini telah berumur lebih 100 tahun. Tetapi sejak seratus tahun pula tidak banyak lagi yang terjadi. Dan dari sinilah Pater Johannes Hämmerle ikut meramaikan dunia penelitian etnologis-antropologis tentang Nias dengan publikasi yang patut mendapat pujian.

Menurut dia, adalah pulau Hinako yang sering dianggap sebagai daerah Bugis lama. Pulau Hinako berada di seberang kota Sirombu di Nias Barat atau Nias selatan bagian barat. Kepulauan Hinako terdiri dari 8 pulau dimana sebagian besar warganya adalah keturunan Bugis. Merekadatang ke Nias sekitar abad ke-17 atau sekitar 13 generasi lalu. Ceritanya, mereka yang datang itu adalah tiga bersaudara. Anak pertama kelak tinggal di pulau Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang, pulau Simeulue (Aceh) dan anak ketiga tinggal di pulau Batu (Tello Nias Selatan). Orang Bugis yang tinggal di Hinako kerap diserang oleh orang Aceh bahkan nyaris dihabisi. Orang Bugis ini mempunyai marga Maru Ndruri, Maru Ao, Maru Hawa, Maru Abaya, Maru Lafau, dan Bulu ‘Aro dan lain lain.

Selain itu terdapat juga versi tentang Bugis di Nias Selatan. Mereka disebut menjelma menjadi suku Bekhua atau suku raksasa. Terdapat 90 orang raksana bekhua (Bugis) yang disebut Laowo Maru. Bekhua ini diserang dan terbunuh. Tersisa satu orang yang melarikan diri dan sampai di Hinako.

Sementara missionaris Steinhart yang berkarya di kepualau Batu dari tahun 1924 sampai 1939 memberitahukan bahwa di kepulauan Batu, orang-orang Bekhua dihormati sebagai pemilik tanah atau penghuni asli. Leluhur mereka disebut Maru. Sewaktu Steinhart masih berada di kepulauan Batu, ditemukan penduduk yang sanggup mengucapkan beberapa rumusan bahasa mereka, li bekhua. Tetapi tidak tahu lagi mengartikannya.

Bahasa daerah orang Bugis di Hinako menurut beberapa orang masih digunakan pada abad ke-19. Tetapi pada abad ke-20 orang Bugis di Hinako mulai menggunakan bahasa Nias. Analisis ini diperkuat oleh buku tulisan Tuanko Rao, bahwa sudah ditemukan masyarakat campuran di wilayah pelabuhan Singkuang, pantai barat Sumatera pada tahun 1416, termasuk adanya komunitas Bugis dari Sulawesi. Leluhur yang datang ke pulau Hinako selalu menggunakan nama Maru, padahal hanya satu marga yang datang tersebut dari Maros atau Maru, demikian Pater Johannes menulis dalam bukunya yang kontroversial tersebut. Pater juga menyebut bahwa tradisi lisan pada abad ke-20 tidak terjamin lagi dan dengan cepat menghilang. Hal ini terbukti di Hinako dimana tradisi lisan itu hampir punah.

Mendukung informasi tersebut, menurut catatan arsip KJTLV di kota Leiden, Belanda, keturunan Bugis di Hinako dikenal sebagai raja Kelapa. Informasi ini diperoleh pada tahun 1980 yang menyebut marga Maru yang mendiami Hinako terdapat 5 marga. Diperkirakan bahwa awal kedatangan to-Maru adalah pada tahun 1675. Ini setelah memperhatikan catatan-catatan dari Leiden tersebut.

Selain itu ada beberapa versi yang cukup mengejutkan, misalnya penggalian di gua Togi Ndrawa (menurut penelitian yang baru dilakukan di Heilberg, Jerman), atau gua Pelita, yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah tinggal di sana sejak 7000 tahun yang lalu. Salah satunya adalah di daerah Hinako itu, dan di pulau-pulau Wesi Selatan telah ada selama 17-18 generasi yang lalu. Mereka disebut suku Maru yaitu suku asli orang Bugis di Nias. Para missionaris menyatakan bahwa bahasa mereka telah hilang kira-kira 100 tahun yang lalu. Kemudian orang Aceh datang ke Nias kira-kira 13-14 generasi yang lalu.

Cerita Versi Modern
Lain catatan peneliti lain pula cerita dari mulut ke mulut. Adalah nama kecamatan Lahewa di Nias Utara yang awalnya dibangun oleh pendatang Bugis yang konon bernama A.Gasiguro Bugis yang berdiam di Moawo pada sekitar awal 1900 yang kemudian mempunyai anak bernama Muhammad Ali Bugis (A. Gaviti Bugis) yang merintis pelabuhan Lahewa menjadi pelabuhan besar Lahewa. Beberapa daerah atau kampung, yang sepertinya dipengaruhi kata Bugis atau Makassar adalah Toyolawa dan Turelaya. Belanda melakukan ekspedisi pertama kalinya di Nias tahun 1855, kemudian pada tahun 1863. Nias telah dikuasai Belanda tahun 1914 seiring dengan gelombang pendatang yang juga semakin besar. Sejak tahun ini di pulau itu, menurut cerita, datanglah pedagang dari tanah Sulawesi.

Sayang sekali ketika menjejak Nias Selatan, tepatnya pulau-pulau Batu, saya tidak sempat mengunjungi pulau Hinako. Pulau Hinako inilah yang disebut oleh Pater Johannes sebagai pulau pelarian Bugis yang selamat dari pertempuran. Namun di dekat pulau ini saya mengunjungi beberapa pulau yang oleh warga setempat disebutkan bahwa untuk pertama kalinya dihuni oleh orang Bugis. Namanya pulau Tello. Selain itu terdapat pula nama pulau seperti pulau Baluta, Asu, Wesi dan pulau Bogi. Nama-nama yang terkesan Bugis.

Dalam kajian lain pernah pula terungkap bahwa masyarakat Nias pernah menggeluti olahraga ma’raga (takraw). Ma’raga berasal dari kata Bugis, sedangkan orang Makassar, sering menyebut permainan ini dengan a’raga (olahraga). Ma’raga termasuk jenis permainan yang memadukan unsur olahraga dan seni. Permainan yang berasal dari Malaka ini, konon hanya dilakukan oleh para bangsawan Bugis saat diadakannya upacara-upacara resmi kerajaan seperti pelantikan raja dan perkawinan anggota kerajaan. Sepak raga di Nias disebut Fa Rago/Famai Rago (Bermain Rago/Berolahraga). Permainan rakyat ini di Nias sudah jarang dilaksanakan atau tidak pernah terlihat lagi.

Terdapat juga hikayat tentang datangnya penganjur Islam, sekitar tahun 1215 H atau 1794 M di bawah pimpinan Haji Daeng Hafiz yang tinggal dan menetap di Gunungsitoli. Dalam pandangan penulis, Bugis telah menyebar hampir di seluruh wilayah kepulauan nusantara. Mereka meninggalkan jejak di Simeuleu, Singkil, Nias, dan beberapa daerah kunci di Sumatera. Ini berarti bahwa mobilitas yang tinggi dan pantang mundur itu dari dulu sudah terpatri. Tentu saja hal tersebut menyimpan sebuah misi.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut di atas, paling tidak terdapat pengakuan dan sisa-sisa tulisan dan diakui di tengah masyarakat setempat, seperti masih adanya nama fam Bugis tersebut. Terdapat fam Bugis yang tidak bisa berbahasa Bugis lagi.

Kita akan semakin yakin bahwa Bugis pada masa lalu memegang peranan penting dan menjadi patron bagi perkembangan wilayah di tanah air. Gambaran di atas adalah khasanah atau kekayaan sejarah nasional. Karenanya, dibutuhkan upaya yang lebih mendalam untuk mencari informasi berserak yang dapat menjadi gagasan komunal tentang revitalisasi daya jelajah dan daya juang masyarakat di nusantara.

Catatan Cerita Saya :

Dari cerita asal usul bugis yang dicerita orang tua saya mengatakan " dulunya kakek moyang mereka adalah seorang pelaut yang berasal dari sulawesi selatan ( dimana orang bugis hidupnya melaut) sehingga mereka menemukan daratan pulau nias letak di nias utara di kecamatan lahewa yang sekarang kabupaten nias utara.. dimana disana mereka melabuh dan menetap di lahewa sambil menyiarkan agama islam.., kebetahan mereka .. terjadi pernikahan antara suku nias dan bugis... sekarang banyak di temukan keturunan suku bugis di kecamatan lahewa di desa mo'awe.. karena ibu saya termasuk keturunan suku bugis.. dan sekarang menggunakan fam bugis di depan namanya..

Sekarang sudah 7 keturunan dari keluarga ibu saya yang bermarga bugis..

dimana bugis terbagi atas 3 :

1. bugis tambone/tampone = orang yang tinggal di pesisir pantai

2. bugis wage = keturunan bangsawan

3. bugis ( saya kurang tahu ) , tpi dari hasil cerita ibu/nenek saya bahwa bugis ini yang menguasai kepemerintahan..

Yang menguatkan bahwa mereka adalah keturunan bugis yakni :

1. Tambo adalah Silsilah keturunan nenek moyang marga bugis

2. Tongkat Emas Datuk Daeng Nakonce yg merupakan tongkat berasal dari Bugis

3. Makam para Datuk Bugis terletak di kecamatan Desa Moa'we- Lahewa Kab. Nias Utara

Terjadi Marga Bugis

Dimana pada saat itu bugis adalah sepenggal suku.., kemudian menjadi marga karena buyut ibu saya meninggal., mulai terpikirkan untuk membuat fam di depan nama yakni bugis agar mengenang asal usul mereka.., bugis mulai dipakai di depan nama disaat 6 keturunan keluarga ibu saya, dan kemudian berkembang marga bugis..

bila ada cerita yang mengatakan bugis berlabuh sejak pertama kalinya di nias barata letaknya di sirombu.. yang memiliki pecahan marga maru hawa, maru ao , marunduri dll "mungkin juga".. tapi yang saya ceritakan asal usul marga bugis di nias utara..

*maaf bila ada kesalahan mohon di koreksi/ diperbaiki

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis dan mengutip beberapa catatan peneliti Belanda Pater Johannes Maria Hammerle,



ABOUT : NIAS ISLAND

Nias (bahasa Nias Tano Niha) adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, Indonesia. Pulau ini dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang masih memiliki budaya megalitik. Daerah ini merupakan obyek wisata penting seperti selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, lompat batu.

Pulau dengan luas wilayah 5.625 km² ini berpenduduk 700.000 jiwa. Nias saat ini telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli.

Bahasa Nias, atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa di dunia yang masih belum diketahui persis dari mana asalnya.

Bahasa Nias merupakan salah satu bahasa dunia yang masih bertahan hingga sekarang dengan jumlah pemakai aktif sekitar setengah juta orang. Bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahasa yang unik karena merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal.Bahasa Nias mengenal enam huruf vokal, yaitu a,e,i,u,o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan "e" seperti dalam penyebutan "enam" ).

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.

Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

Rumah Adat Nias


Salah satu bu
kti material kejayaan kultur para leluhur masyarakat Nias adalah rumah adat ‘Omo hada’ atau ‘Omo Niha’ dengan berbagai tipe yang masih bisa kita lihat sampai sekarang ini. Keindahan dan keagungan arsitektur rumah adat Nias telah menarik minat para peneliti luar negeri untuk mengetahui lebih dalam bagaimana konstruksi rumah-rumah tersebut. Rumah adat Nias memiliki filosofi dan merupakan simbol untuk menya-mpaikan berbagai pesan moral kepada generasi ke generasi.





Tempat Pariwisata Nias Island

Di Pantai Sorake dan Lagundri-letaknya di Teluk Dalam Nias Selatan
" Pantai ini merupakan tujuan wisatawan asing maupun lokal untuk berseancar karena ombak yang indah dan besar membuat turis asing maupun lokal selalu mengunjungi pantai ini.."
Lompat Batu - Desa bawomataluo - Nias Selatan
" lompat batu nias merupakan peninggalan leluhur kepada masyarakat dan desa ini merupakan kunjungan setiap turis karena keunikan lompat batu nias membuat turis asing maupun lokal penasaran akan keunikan desa ini.. setiap melakukan lompatbatu..."
"Pulau Asu - Nias Barat
"Pantai Merah - Kec. Afulu Nias Utara.
dan banyak lgi pesona alam lainnya dan juga tempat untuk di kunjungi..

Mitologi


Tari Perang

Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Nias saat ini telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli.

Kabupaten Nias adalah salah satu kabupaten di Sumatra Utara yang terletak di pulau Nias. Ibukotanya Gunungsitoli dapat ditempuh dengan perjalanan laut dari Sibolga selama 10 jam, atau dengan perjalanan udara dari Medan selama 1 jam menggunakan pesawat SMAC (Fokker F-50) dan Merpati (CN 235), Riau Air lines dan Wings Air.

Dalam bahasa daerah Nias, Pulau Nias disebut dengan istilah Tano Niha. Penghasilan utama penduduknya sebagian besar masih mengandalkan dari hasil pertanian. Luas lahan potensial mencapai 81.389 hektar yang terdiri dari sawah 22.486 hektar dan lahan kering 58.903 hektar. Namum, potensi yang dimiliki itu belum memberikan hasil maksimal untuk mampu mencapai swasembada pangan. Terbukti, kabupaten ini pada tahun 1999 masih mendatangkan beras dari luar daerah sebanyak 22.323 ton. Tak jauh berbeda pula dengan keadaan hasil perkebunan. Keadaan alam Nias yang subur sangat cocok untuk budi daya tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh dan nilam. Karet dan kopra menjadi andalan utama hasil perkebunan. Produksi karet pada 1999 mencapai 13.624 ton, dan kopra 42.230 ton

Kecamatan di Kabupaten Nias

  1. Bawolato
  2. Botomuzoi
  3. Gido
  4. Hili Serangkai
  5. Hiliduho
  6. Idanogawo
  7. Ma'u
  8. Somolo-molo
  9. Ulugawo

Kabupaten Nias Utara

Dengan disahkannya Undang-Undang RI Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Nias Utara di Provinsi Sumatera Utara, maka sebagian bekas kecamatan di Kabupaten Nias menjadi berada di wilayah hukum Kabupaten Nias Utara, yaitu:

  1. Afulu
  2. Alasa
  3. Alasa Talumuzoi
  4. Lahewa
  5. Lahewa Timur
  6. Lotu
  7. Namohalu Esiwa
  8. Sawo
  9. Sitolu Ori
  10. Tugala Oyo
  11. Tuhemberu

Kabupaten Nias Barat

Dengan disahkannya Undang-Undang RI Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Nias Barat di Provinsi Sumatera Utara, maka sebagian bekas kecamatan di Kabupaten Nias menjadi berada di wilayah hukum Kabupaten Nias Barat, yaitu:

  1. Lahomi
  2. Lolofitu Moi
  3. Mandrehe
  4. Mandrehe Barat
  5. Mandrehe Utara
  6. Moro'o
  7. Sirombu
  8. Ulu Moro'o
Kota Madya Gunungsitoli

Dengan disahkannya Undang-Undang RI Nomor 47 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Gunung Sitoli di Provinsi Sumatera Utara, maka sebagian bekas kecamatan di Kabupaten Nias menjadi berada di wilayah hukum Kota Gunung Sitoli, yaitu:

  1. Gunung Sitoli
  2. Gunung Sitoli Alo'oa
  3. Gunung Sitoli Barat
  4. Gunung Sitoli Idanoi
  5. Gunung Sitoli Selatan
  6. Gunung Sitoli Utara


DUNIA KOMPUTER

Perintah FORMAT adalah perintah untuk membentuk hanrddisk agar bisa digunakan sebagai media penyimpan data. Harddisk yang belum fiformat tidak bisa digunakan untuk menyimpan data, oleh karena itu sebuah hardisk perlu diformat sebelum digunakan.

Perintah dalam melakukan format drive harddisk adalah sama, akan tetapi apabila memformat harddisk yang tersimpan sistem operasi, hal ini akan tidak bisa dilakukan. Misalnya sistem operasi windows sudah tersimpan di drive c, selanjutnya kita merencanakan untuk memformat ulang drive c, hal ini akan berbeda dengan memformat drive lain selain drive c misalnya drive d, e, f dan setersunya.

Hal ini karena sistem operasi memiliki sekuriti atau pengaman terhadap sistem opeasi itu sendiri yang memang disediakan untuk melindungi sistem operasi dari ketidaksengajaan pengguna menghapus file-file sistem.

Karena memformat driv c (terisi sistem operasi windows) berbeda dengan menformat drive lain yang dapat dilakukan dari windows dan juga merupakan pertanyaan dari salah seorang pengunjung blog BIK Pemula ini yang menanyakan bagaimana cara format drive c maka berikut ini cara melakukan format drive c.

Sebelum melakukan format harddisk drive c, anda sudah harus tahu bahwa sistem operasi serta aplikasi yang ada di atasnya akan terhapus secara otomatis pada saat melakukan format drive c dan semuanya harus diistall ulang. Bila tidak ingin menghapus semua aplikasi sebaiknya jangan melakukan format ulang tetapi hanya melakukan repair sistem operasi windows.


Berikut cara melakukan format drive c

Karena format drive c tidak dapat dilakukan dari sistem operasi windows yang sudah terinstall maka untuk memformat harddisk drive c harus menggunakan cd installer windows, dalam hal ini saya menggunakan cd installer windows xp sp2.

1. Hidupkan CPU/komputer anda
2. Masukan cd windows ke cd-rom drive
3. Boot ulang/reset komputer dan tunggu hingga muncul pesan "Press any key to boot from CD..." tekan salah satu tuts keyboard untuk melakukan boot dari cd.
4. Tunggu proses loading dan copy file hingga muncul jendela "welcome to Setup".
5. Tekan tombol ENTER (To set up Windows XP now, press ENTER)
6. Pada jendela "Windows XP Licensing Agreement" tekan tombol F8
7. Tekan tombol Esc (Escape) (To continue installing a fresh copy of Windows XP without repairing, press ESC)
8. Tekan tombol D (To delete the selected partition, press D) untuk menghapus partisi drive c. Perhatikan bahwa posisi bar berwarna putih berada di drive C bila tidak silahkan geser tab menggunakan tanda panah untuk menempatkan di drive c.
9. Tekan tombol ENTER
10. Tekan tombol L
11. Tekan tombom ENTER (To set up Windows XP on the selected item, press ENTER)
12. Silahkan pilih cara format drive c, mau secara cepat (quick) atau secara normal. Untuk contoh gunakan format cara normal yaitu Format the partition using teh NTFS file system. Tekan ENTER.
13. Tunggu hingga proses format selesai dan dilanjutkan dengan installasi sistem operasi windows.
14. Ikuti petunjuk untuk melakukan isntallasi windows XP.

Demikian cara melakukan format ulang windows XP SP2, semoga bisa bermanfaat dan bisa membantu sobat yang menanyakan cara format ulang drive c.